Kolaborasi Lintas Sektor Antar Sulut Masuk Jajaran Terbaik Nasional, Gubernur Yulius: Kesehatan Dimulai dari Pendidikan hingga Infrastruktur
JAKARTA – Keberhasilan Provinsi Sulawesi Utara menembus jajaran 10 besar nasional di sektor kesehatan tidak diraih hanya melalui peningkatan layanan medis. Gubernur Yulius Selvanus menegaskan, capaian tersebut merupakan hasil kerja terpadu lintas sektor, mulai dari pendidikan, pembangunan infrastruktur, pengentasan kemiskinan, hingga penguatan budaya gotong royong di tengah masyarakat. Capaian itu turut didukung oleh tingkat Universal Health Coverage (UHC) sebesar 99,1 persen dan tren penurunan angka stunting di daerah.
Dalam pemaparannya pada sebuah dialog nasional di Jakarta, Gubernur Yulius menyampaikan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa dipandang semata-mata sebagai urusan rumah sakit atau tenaga medis. Menurutnya, kualitas kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, akses terhadap air bersih, sanitasi, hingga tersedianya infrastruktur yang memadai.
"Kesehatan adalah hasil dari pembangunan yang terintegrasi. Ketika pendidikan meningkat, masyarakat lebih mudah menerima informasi tentang gizi dan pola hidup sehat. Ketika jalan, sanitasi, dan air bersih tersedia, kualitas kesehatan juga ikut meningkat," jelasnya.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah penurunan angka stunting. Gubernur menjelaskan bahwa upaya tersebut dilakukan melalui berbagai intervensi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, hingga keluarga.
Menurutnya, keberhasilan menekan stunting bukan hanya soal pemberian makanan bergizi, tetapi juga peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pola asuh anak, kesehatan ibu hamil, sanitasi lingkungan, dan pemerataan pelayanan kesehatan hingga ke desa-desa serta wilayah kepulauan.
Di sisi lain, Sulawesi Utara juga mencatat capaian membanggakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hingga akhir 2025, cakupan kepesertaan telah mencapai 99,1 persen dari total penduduk, menjadikan Sulut sebagai salah satu provinsi dengan akses perlindungan kesehatan tertinggi di Indonesia. Keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah dan BPJS Kesehatan dalam memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang merata.
Meski demikian, Gubernur mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, terutama terkait pemerataan tenaga medis. Dengan kondisi geografis Sulawesi Utara yang memiliki ratusan pulau, distribusi dokter dan tenaga kesehatan menjadi pekerjaan rumah yang terus diupayakan pemerintah.
Karena itu, Pemprov Sulut mulai menyiapkan langkah strategis melalui pembukaan fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi daerah. Program tersebut diharapkan mampu mencetak dokter-dokter putra daerah yang nantinya bersedia mengabdi di wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang masih kekurangan tenaga kesehatan.
Selain penguatan sumber daya manusia, pemerintah juga terus mendorong revitalisasi Posyandu. Saat ini Posyandu tidak lagi hanya berfungsi melayani ibu dan balita, tetapi telah berkembang menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mencakup edukasi kesehatan, kesejahteraan sosial, pemberdayaan keluarga, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat di tingkat desa.
Gubernur Yulius menegaskan, penghargaan dan pengakuan nasional yang diraih Sulawesi Utara bukanlah tujuan akhir. Sebaliknya, capaian tersebut menjadi motivasi bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperluas akses kesehatan, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor agar masyarakat Sulawesi Utara semakin sehat, produktif, dan sejahtera.
"Pembangunan kesehatan tidak boleh berhenti pada angka atau penghargaan. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari," tegas Gubernur.
(Nove)